Dibalik kejadian yang sangat "careless" ini, terdpat pelajaran yang sangat "precious"
----------------------------------------------------------------------------------
Malam itu
saya merasakan perut saya yang sudah mulai lapar. Memang waktu sudah
menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit, saatnya untuk makan malam. Berulang-kali
perut saya bunyi, seakan cacing-cacing dalam perut saya sudah tak kuat menahan
lapar. Walaupun begitu, tetapi saya tak bergegas untuk makan, melihat menu
makanan yang tersedia di meja makan hanya ada bandeng sisa sarapan dan makan
siang saya. Lapar saya seakan tertahan lagi, dengan saya yang tidak berselera
makan, memakan menu makanan yang sama dalam sehari.
Berpikir akan
makan apakah saya mala ini? tiba-tiba saya terpikir kalau saya ingin makan
pecel lele, ya memang sudah dari kemarin saya ingin makan pecel lele “kremes”
yang dijual di komplek sebelah.
Saya pun
meminta uang kepada mama saya untuk membeli pecel lele. Dia memberikan saya 100
ribu rupiah.
Saya pun bergegas pergi membeli lele menggunakan motor. Sampai
tiba saatnya saya membayar makanan yang sudah saya beli, dan tanpa sadar
setelah sampai di rumah uang kembalian lele itu kurang 50 rb!!! *bro lima puluh
ribu bro! mending gitu ya, kalau kurangnya seribu, dua ribu, ini gocap! Matilah
gue.
“Loh dan,
kembaliannya kok cuma segini? Uangnya, kan 100rb tadi” tanya mama kepadaku.
Oke saya pun
tersadar, sepertinya tadi saya kurang teliti dalam menghitung uang kembalian. Saya
terlalu menganggap remeh bahwa uangnya benar, dan langsung saja pulang tanpa
mengecek uang kembalian dengan teliti. *sudah saking laparnya, sepertinya …
Mama pun
langsung bermuka suram kesal kepada saya yang tidak teliti, begitupun dengan
ayah yang mendengar percakapan kami. Ayah pun menasihati saya, untuk lebih
teliti lagi dalam melakukan sesuatu. Dia pun, bilang “makanya jangan ngeremehin
tindakan orang tua”. Ya, memang saya sering meremehkan apa yang dicontohkan
ayah kepada saya. Kerap kali saya menganggap tindakan yang ayah lakukan itu
LEBAY. Seperti ketika sedang mengisi bensin, dan ayah saya selalu bersuara
keras dengan muka yang gak, nyantai kepada petugas pom bensin ketika
menyebutkan nominal uang untuk membeli bensin tersebut.
Saya yang melihat ayah begitu, malah meledek “biasa
kali, yah ngomongnya” padahal ayah melakukan hal tersebut karena kerap kali,
orang ketika ngomong itu bersuara pelan dan tidak jelas, ditambah petugas pom
bensin yang pasti akan menanyakan kembali “hah? Ngisi berapa pak?” “SERATUS
RIBU RUPIAH” sahut ayah saya dengan intonasi yang super duper jelas dan gerak
mulut yang lebar. Hmmmm…
Apapun yang
terjadi memang perkataan orang tua itu baik untuk anaknya. Tidak ada orang tua
yang ingin menjerumuskan anaknya. Semua yang dilakukan orang tua semata-mata
hanya untuk kebaikan anaknya. Hanya umur dan perbedaan jaman saja yang kerap kali membuat kita tidak
sepikir dengan pikiran orangtua. Tetapi pada intinya tidak akan ada ruginya
juga kalau kita mematuhi nasihat mereka. Ingatlah dibalik semua hal yang tidak
menyenangkan yang terjadi di hidup kita, semua itu mempunyai nilai pelajaran
yang sangat berharga bagi kehidupan kita selanjutnya. Kita tentu lebih pintar
dari keledai bukan, yang tidak akan jatuh ke lubang yang sama…
Every single
things is precious.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar