Senin, 19 Agustus 2013

Beli Pecel Lele, Kembalian Kurang 50rb, Damn!

Dibalik kejadian yang sangat "careless" ini, terdpat pelajaran yang  sangat "precious"

----------------------------------------------------------------------------------

Malam itu saya merasakan perut saya yang sudah mulai lapar. Memang waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit, saatnya untuk makan malam. Berulang-kali perut saya bunyi, seakan cacing-cacing dalam perut saya sudah tak kuat menahan lapar. Walaupun begitu, tetapi saya tak bergegas untuk makan, melihat menu makanan yang tersedia di meja makan hanya ada bandeng sisa sarapan dan makan siang saya. Lapar saya seakan tertahan lagi, dengan saya yang tidak berselera makan, memakan menu makanan yang sama dalam sehari.

Berpikir akan makan apakah saya mala ini? tiba-tiba saya terpikir kalau saya ingin makan pecel lele, ya memang sudah dari kemarin saya ingin makan pecel lele “kremes” yang dijual di komplek sebelah.
Saya pun meminta uang kepada mama saya untuk membeli pecel lele. Dia memberikan saya 100 ribu rupiah.

Saya pun bergegas pergi membeli lele menggunakan motor. Sampai tiba saatnya saya membayar makanan yang sudah saya beli, dan tanpa sadar setelah sampai di rumah uang kembalian lele itu kurang 50 rb!!! *bro lima puluh ribu bro! mending gitu ya, kalau kurangnya seribu, dua ribu, ini gocap! Matilah gue.

“Loh dan, kembaliannya kok cuma segini? Uangnya, kan 100rb tadi” tanya mama kepadaku.

Oke saya pun tersadar, sepertinya tadi saya kurang teliti dalam menghitung uang kembalian. Saya terlalu menganggap remeh bahwa uangnya benar, dan langsung saja pulang tanpa mengecek uang kembalian dengan teliti. *sudah saking laparnya, sepertinya …

Mama pun langsung bermuka suram kesal kepada saya yang tidak teliti, begitupun dengan ayah yang mendengar percakapan kami. Ayah pun menasihati saya, untuk lebih teliti lagi dalam melakukan sesuatu. Dia pun, bilang “makanya jangan ngeremehin tindakan orang tua”. Ya, memang saya sering meremehkan apa yang dicontohkan ayah kepada saya. Kerap kali saya menganggap tindakan yang ayah lakukan itu LEBAY. Seperti ketika sedang mengisi bensin, dan ayah saya selalu bersuara keras dengan muka yang gak, nyantai kepada petugas pom bensin ketika menyebutkan nominal uang untuk membeli bensin tersebut.

Saya yang melihat ayah begitu, malah meledek “biasa kali, yah ngomongnya” padahal ayah melakukan hal tersebut karena kerap kali, orang ketika ngomong itu bersuara pelan dan tidak jelas, ditambah petugas pom bensin yang pasti akan menanyakan kembali “hah? Ngisi berapa pak?” “SERATUS RIBU RUPIAH” sahut ayah saya dengan intonasi yang super duper jelas dan gerak mulut yang lebar. Hmmmm…

Apapun yang terjadi memang perkataan orang tua itu baik untuk anaknya. Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya. Semua yang dilakukan orang tua semata-mata hanya untuk kebaikan anaknya. Hanya umur dan perbedaan jaman  saja yang kerap kali membuat kita tidak sepikir dengan pikiran orangtua. Tetapi pada intinya tidak akan ada ruginya juga kalau kita mematuhi nasihat mereka. Ingatlah dibalik semua hal yang tidak menyenangkan yang terjadi di hidup kita, semua itu mempunyai nilai pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan kita selanjutnya. Kita tentu lebih pintar dari keledai bukan, yang tidak akan jatuh ke lubang yang sama…


Every single things is precious. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar